Sedih. Kalut. Kecewa. Marah. Galau. Semuanya berpadu di saat yang sama, di waktu yang sama. Hati terasa sangat pedih, perih, tersayat... Rasanya semuanya telah usai. Tak ada lagi yang dapat dilakukan. Pikiran berkecamuk. Hati bergejolak. Entah masih sanggupkah diriku melalui semuanya ini dan segala yang akan terjadi di kemudian hari, di depanku..? No-one know. Aku pun tidak. Enggan rasanya melanjutkan hidup bila keadaannya hanya akan terus seperti ini atau bahkan lebih buruk dari sekarang ini... Apa mungkin ada baiknya kalau aku tidak ada..? Mungkin semua akan baik-baik saja dengan tidak adanya manusia yang benar-benar tidak penting seperti diriku ini.
Duhh.. serius anet ya bacanya... Ini bukan kisahku, ini ceritaku :)) Gua gamau bunuh diri kok selaw.. Gua juga ga lagi patah hati kok, ahahahahahaha :p Lanjut aja ya bacanya.. Ini kisah seorang gadis bernama Ilana...
Pertengahan Juli, awal masa putih abu-abu.
Namanya Dhirga. Tak ada yang istimewa dari dirinya secara fisik. Amat sangat terlalu biasa. Tapi entah apa yang menarik diriku untuk mengajaknya berkenalan. Dhirga lucu. Dhirga masih sangat lugu dan dialek Jawanya masih sangat kental. Wong Solo. Aku mulai memperkenalkan Dhirga ke teman-temanku yang lain. Dhirga masih terlalu pemalu dan kalem saat itu. Ia tak banyak berbicara, ia hanya banyak tersenyum. Senyumnya manis. Dhirga mempunyai dua lesung pipi. Giginya tersusun rapi. Dan itu membuatnya terlihat... manis. Ahahaha, aku baru saja berkenalan dengannya...
Tak disangka, aku mendapat kelas yang sama dengan Dhirga. Dhirga memintaku duduk bersamanya. Alasannya karena hanya aku yang cukup dekat dengannya. Dhirga lucu. Aku setuju saja. Toh tak ada ruginya juga kan kalau aku duduk bersamanya.
Waktu terus bergulir, hari demi hari berganti, bulan demi bulan berlalu. Dhirga mempunyai banyak teman sekarang. Bukan hanya aku. Tetapi aku dan Dhirga masih sangat sering bersama. Berangkat sekolah bersama, menghabiskan waktu istirahat bersama, pulang sekolah pun bersama. Banyak orang menyangka kami berdua memiliki hubungan khusus. Padahal tidak. Sayangnya tidak. Aku dan Dhirga hanya berhubungan sebatas sahabat. Tidak lebih dari itu.
Tetapi apakah salah bila aku menyimpan perasaan lebih untuknya...?
Aku termasuk orang yang realis. Tapi aku suka membuat burung kertas. Ada mitos kalau kita membuat 1000 burung kertas keinginan kita akan tercapai. Entah kenapa kali ini aku ingin mencoba mempercayainya. Aku membuang pandangan realisku untuk sementara. Sejak aku mulai menyadari perasaan lebihku untuk Dhirga, aku mulai membuat burung-burung kertas. Saat ini jumlahnya sudah 913. Aku selalu menuliskan "Ilana ♥ Dhirga". Ketika aku melipat kertasnya hingga membentuk sebuah burung kertas, aku selalu mengucapkan kalimat "Aku sayang Dhirga.. Aku nggak mau kehilangan Dhirga.. Aku mau selalu ada buat Dhirga.. Dan Dhirga untukku...". Mungkin aku terlalu egois. Mungkin juga aku salah mengartikan perasaanku. Mungkin saja ini semua hanya obsesiku. Tapi apa bisa hati dimengerti? Apa bisa perasaan ditebak, dicegah, dan direncanakan? Aku tau jawabannya tidak. Aku juga tak pernah menyangka semuanya jadi seperti ini.
"Lanaaaaa.. Mau cerita dong, boleh nggak?" rajuk Dhirga ketika kami di kantin saat istirahat esok harinya.
"Mau cerita apaan lo? Semangat bener kayaknya, nggak kayak biasanya."
"Gua lagi jatuh cinta."
Deg. "Jatuh cinta? Bercanda lo! Kayak ngerti aja!"
"Na, gua bukan Dhirga yang too polos kayak dulu lagi kali! Serius lah gua."
"Yang namanya jatoh itu sakit, Ga."
"Ini beda lah, Na.. Jatuh cinta itu berjuta rasanya. Indah banget, Na. Lo blm pernah ngerasain sih, makanya lo gatau kan."
"Yaelah, tau apazih lo ttg hati gua?"
"Lo kan too realis, Na. Mana sempet lo mikir cintacintaan kayak gitu, yakan?"
"Nggak semua yang lo pikirin sama kayak yang orang lain pikirin."
"Tuh, Na. Liat, Na! Senyumnya manis banget, Na. Matanya, Rambutnya.. Perfect banget, Na.."
"Avilla?"
"Selera gua bagus kan, Na..??"
Aku tidak menjawabnya. Hatiku waspada. Avilla cantik, sangat cantik. Ia salah satu cewek populer di sekolah selain aku. Avilla banyak disukai orang. Cowok yang ngejar-ngejar banyak. Dan kata gosip, Avilla naksir Dhirga...
Siang itu aku cepat-cepat ingin menyelesaikan burung-burung kertasku. 914! 86 lagiiiiii.... Aku ingin tau apakah mitos itu benar atau tidak, aku ingin membuktikannya. Kali ini saja, hanya kali ini.
Dua jam aku mengurung diri di kamar. Sudah 990 kertas yang kubuat. 10 lagi, dan selesai. Aku lelah, aku berniat untuk istirahat sejenak. Aku menyalakan laptopku. Aku membuka akun twitterku. Seperti biasa, aku mulai kegiatanku di twitter dengan mengecek notifikasi dan dm. Ada dari Dhirga. Dia memintaku untuk melihat bio-nya. Aku me-klik namanya. Kulakukan apa yang dimintanya. Aku terhenyak. Lemas, tertunduk. Di bio twitter Dhirga tertulis Avilla♥. Tidak percaya, aku mencari akun Avilla. Aku membaca bionya. Tertulis disana caesardhirga's.
Sedih. Kalut. Kecewa. Marah. Galau. Semuanya berpadu di saat yang sama,
di waktu yang sama. Hati terasa sangat pedih, perih, tersayat...
Rasanya semuanya telah usai. Tak ada lagi yang dapat dilakukan. Pikiran
berkecamuk. Hati bergejolak. Entah masih sanggupkah diriku melalui
semuanya ini dan segala yang akan terjadi di kemudian hari, di
depanku..? No-one know. Aku pun tidak. Burung kertasku tinggal 10 lagi, dan ternyata semua sia-sia.. Dhirga tidak menjadi milikku.
Dhirga bahagia bersama Avilla. Aku dan Dhirga juga masih sering bersamaan. Avilla gadis yang baik. Ia menerima hubungannku dan Dhirga yg berstatus sahabat. Kadang aku merasa sedih dan cemburu ketika melihat mereka bersama. Tapi ya, sahabat mah ngalah aja :') Aku bahagia melihat Dhirga bahagia. Aku pun bersahabat baik dengan Avilla. Aku selalu meminta Avilla untuk menjaga Dhirga karena Dhirga masih terlalu polos :') Dan aku selalu meminta Dhirga untuk menjaga Avilla seperti Dhirga menjagaku karena Avilla kini juga sahabatku, dan sayangku tak hanya untuk Dhirga tetapi juga Avilla.
Selesaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii :')))







Tidak ada komentar:
Posting Komentar