Agustus 23, 2014

Cinta Takkan Salah

Selamat malam.. Selamat hari Sabtu.. Mau ngepost cerita nih. Cerita buat tugas senibudaya sebetulnya ini.. tapi ngepost sini juga deh hehe. Ini ide ceritanya vinasekar yaa :))
Ini nggak full story sebenernya.. Soalnya kata om ari kalo divisualisasiin durasinya nggak boleh more than 8 minutes :"
Ini cerita tentang cinta yang full of perbedaan. Agama, suku, budaya, dan awalnya hubungannya itu nggak disetujuin sama orangtua mereka masing-masing. But mereka pantang menyerah gitu, mereka backstreetan gitudeh, but akhirnya adalah...
Mari baca :)) Tinggalkan komentarmu jika sudah selesai membaca ini :)) Tararengkyu :))



Namaku Windy. Aku sudah 3 bulan berpacaran dengan Marco. Selama 3 bulan itu kami berpacaran secara sembunyi-sembunyi. Hal itu terjadi karena tidak adanya persetujuan orang tua kami. Masalahnya adalah karena agama dan budaya kami yang berbeda. Aku seorang gadis keturunan ningrat dan aku menganut agama islam. Sedangkan Marco adalah seorang chinese dan beragama kristen. Belakangan ini orang tua kami mulai curiga terhadap hubungan kami berdua. Ditambah lagi Clara, mantan Marco yang mengadu kepada Mama Marco perihal putusnya mereka dan hubungan kami.
                Aku lelah. Aku tidak kuat lagi menjalani hubungan seperti ini. Aku lelah bersembunyi. Aku lelah membohongi ayahku. Aku ingin semuanya penuh kejujuran. Bukankah dalam sebuah hubungan harus didasari oleh kejujuran? Lagipula aku mulai bisa berpikir jernih, mungkin orang tua kami benar. Mungkin kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Mungkin cinta kami memang salah.
“Marco, lebih baik kita putus aja. Aku nggak tahan lagi sama hubungan kita yang kayak gini terus.” kataku kepada Marco sepulang sekolah.
           “Emang kenapa sih, Win? Nggak tahan kenapa?” tanya Marco kepadaku.
           “Aku capek, Co. Aku selalu merasa terpojok. Kamu tuh nggak ngerti rasanya jadi aku itu gimana.”
           “Calm aja lah, Win.. Kita kan bisa ngomongin ini baik-baik, jangan asal ambil keputusan. Kita nggak bisa ngambil keputusan pake emosi.”
           “Aku nggak lagi emosi, Co. Aku udah pikirin ini mateng-mateng. Aku mau kita putus.” Tegasku dan langsung pergi meninggalkan Marco.
           Setelah hari itu, aku tidak masuk sekolah selama 3 hari. Marco terus berusaha menghubungiku. Aku tidak pernah membalas smsnya, bbmnya, mentionnya, direct messagenya, chatnya, bahkan mengangkat teleponnya pun aku enggan. Aku tidak masuk sekolah karena kepalaku terasa seperti tertusuk jarum yang sangat banyak. Ternyata aku divonis oleh dokter menderita kanker otak stadium 3 dan waktuku diperkirakan hanya tinggal 2 bulan lagi. Aku mulai merasakan penyakit ini sejak bulan ke-2 aku bersama Marco. Aku ingin Marco siap untuk kehilanganku sebelum hal itu benar terjadi.
           Hari ini aku memaksakan diri untuk masuk sekolah. Walaupun ayah tidak mengizinkan, aku tetap bersikeras untuk masuk sekolah. Aku rindu Marco. Aku rindu melihat tatapan matanya, senyumnya, canda tawanya, pokoknya segala hal yang ada didalam diri marco aku rindukan.
           “Win, kemana aja nggak masuk sekolah? Kamu mau kabur dari aku? Atau menghindar? Salahku apa sih, Win?” kata Marco ketika melihatku masuk kelas.
           “Sakit.” jawabku ketus.
           “Kamu sakit apa? Kok nggak bilang?” tanyanya khawatir.
           “Cuma pusing aja. Kenapa harus bilang? Emang lo siapa gua?”
           “Kok kamu berubah?”
           "Gua bukan power ranger kali”
           "Kamu kenapa sih? Kamu aneh, Win. Aku punya salah apa sih sama kamu? Dosaku apa?”
           “Yaudahlah, Co.. Kita tuh udah putus, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi, lo nggak usah deket-deketin gua lagi! Nggak usah sok perhatian dan peduli lagi sama gua! Urusin aja mantan lo yang tukang ngadu itu, yang nggak bisa jaga rahasia orang dan selalu berharap balik sama lo! Urusin dia aja, Co! Ajarin dia tatakrama!” teriakku sambil menahan rasa sakit di hati dan kepalaku.
           Tiba-tiba tubuhku lemas, pandanganku kabur, lalu gelap. Aku pingsan. Aku baru sadar sekitar satu jam setelahnya. Aku ada di rumah sakit. Ayah dan Marco ada di sampingku.
           “Kamu tuh, nduk, tadi kan ayah sudah bilang ndak usah masuk dulu. Kamu ngeyel tho, dadine ngene. Mau kowe pingsan neng sekolah, untung ada Marco. Dia langsung bawa kamu ke UKS dan langsung nelpon ayah.”
           Tubuhku masih terlalu lemas. Aku tidak kuat untuk menjawab perkataan ayah.
           “Kamu kenapa nggak jujur aja sih, Win, kalo kamu kena kanker otak?” tanya Marco sambil menggenggam tanganku. Tatapannya sedih dan kecewa. Aku tidak menjawab.
           “Harusnya kamu bilang aja kalo kamu sakit, kita bisa lewatin ini bareng-bareng, nggak usah pake putus segala,” sambung Marco lagi.
           Semenjak itu ayah mengizinkan aku untuk berhubungan lagi dengan Marco. Aku selalu pergi ke sekolah bersama Marco. Belajar bersama Marco. Lebih sering berjalan di taman bersama Marco. Lari pagi bersama Marco. Hampir setiap saat kuhabiskan bersamanya. Marco semakin sabar dan memperhatikanku. Dia merawat dan menjagaku dengan sangat baik. Marco selalu mengingatkanku kala waktuku meminum obat. Marco selalu mengantarku menjalani khemotheraphy, dan dia tak pernah lupa untuk membawa boneka stitch kesayanganku. Dia berhasil membuat hari-hari terakhir hidupku menjadi lebih berwarna.
           Sebulan telah berlalu. Aku menjalani hari-hariku dengan penuh senyuman. Aku semakin bahagia ketika Mama Marco mendatangiku dan mengatakan bahwa dia menyetujui hubungan kami. Aku semakin semangat untuk sembuh. Walau terkadang aku berpikir bahwa mustahil penyakit ini dapat disembuhkan. Mustahil bahwa aku bisa bersama Marco selamanya. Kadang aku juga berpikir bahwa Mama Marco merestui hubungan kami karena ia tahu bahwa aku akan mati. Aku bertanya sendiri dalam hati apa maksudnya ini semua. Mengapa hidupku harus semenderita ini? Tetapi Marco tak henti-hentinya mengingatkanku: ‘kamu jangan mikir negatif terus... jangan mikir yang berat-berat dulu... berpikirlah bahwa kamu akan sembuh... pikir aja segala sesuatu yang bikin kamu seneng... itu bisa ngebantu proses penyembuhan kamu, Windy...’ yang akhirnya membangkitkan kembali asa dan harapanku untuk dapat sembuh.
Hari ini tepat tanggal 3. Aku sangat gembira dan bersemangat untuk berangkat sekolah. Hari ini adalah tanggal jadiku dengan Marco yang kelima. Aku berloncat-loncatan menuju kamar mandi. Tiba-tiba kepalaku sangat sakit sekali, pandanganku berkunang-kunang. Aku mulai lemas dan aku jatuh terkulai di kamar mandi. Aku mimisan.
           “Win, windy, kamu sudah siap, nduk? Ayo kita berangkat sekolah. Tadi Marco telpon katanya dia ndak bisa jemput kamu, dia mau nganter mamanya ke stasiun dulu. Jadi kamu berangkat sama ayah aja yo, nduk. “ Ayah mengetuk pintu kamarku
           “Windy dengar ayah ndak? Kamu sudah bangun tho? Kok nggak dijawab tho, nduk? Ayah masuk ya?”
Ayah masuk ke kamarku. Ayah bingung ketika melihat tempat tidurku kosong. Lalu ayah membuka pintu kamar mandi. Ayah sangat terkejut ketika melihat aku jatuh terkulai di lantai kamar mandi dan hidungku mengeluarkan darah.
           “Astaghfirullah hal ‘azim... Windy, kamu kenapa, nduk? Ayo kita ke rumah sakit sekarang!” jerit ayah sambil mengangkat tubuhku.
           “A…a..ayah” gumamku pelan, lalu aku tak sadarkan diri.
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Aku tersadar di rumah sakit. Sekujur tubuhku penuh peralatan dan selang-selang kecil khas rumah sakit. Aku tak dapat bergerak bebas. Aku melihat jam dinding. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh. Aku melihat sekelilingku. Tidak ada siapa pun. Aku merasa sangat sakit kali ini. Aku merasakan sakit ini lebih sakit dari biasanya. Aku merasa sebentar lagi adalah waktuku pergi. Perlahan airmata menetes dari pelupuk mataku.
Tiba-tiba pintu kamar rumah sakit terbuka. Marco muncul dari balik pintu. Ia membawa sebuket bunga mawar putih dan sebuah bungkusan kado. Marco tersenyum manis. Ia menghampiriku, mengusap rambutku yang sudah sangat tipis, dan mencium keningku.
“Selamat lima bulan, sayang... Ini aku bawain bunga mawar putih kesukaan kamu. Aku bawanya sebuket, nggak setangkai. Kalo setangkai kurang so sweet abisnya... hehehe,” ucap Marco sambil memberiku bunga dan menggenggam erat tanganku. Genggaman tangan Marco sangat erat, lebih erat dari biasanya, seakan dia tidak ingin aku meninggalkannya. Mata Marco terlihat agak sembap. Entah apa yang terjadi.
“Makasih sayang... Hahaha setangkai aja juga nggak papa kok, Co. Yang penting kan kamu ngasihnya tulus dan ikhlas...” jawabku tersenyum.
“Ini ada kado juga buat kamu, dari aku nih, aku bikin sendiri.” Marco memberikan bungkusan kado yang dibawanya.
Aku membuka bungkusan itu. Isinya adalah sebuah album foto. Di dalamnya terpasang fotoku dan foto kami berdua sejak awal kami bertemu sepertinya. Di halaman paling akhir tertulis tulisan tangan Marco, ‘MarcoWindy, 03-03-14’ dan foto favorit kami berdua.
“Bagus banget, Co... Niat banget ya bikinnya?” tanyaku.
“Aku sayang banget sama kamu, Win. Jangan tinggalin aku ya. Aku nggak tau gimana hidup aku kalo nggak ada kamu...”
Aku menggenggam tangan Marco. Aku menatapnya hangat. Sakit di kepalaku semakin hebat. Sebentar lagi waktuku habis, aku tau itu. Ada seorang malaikat yang sudah menungguku sedari tadi. Malaikat itu mengangguk dan tersenyum.
“Maafin aku, Co. Maaf karna aku harus ada di hidup kamu. Maaf karna aku udah nyusahin kamu selama ini. Maaf karna aku nggak bisa ngasih banyak kebahagiaan buat kamu. Maaf karna aku pernah nggak jujur sama kamu. Tapi maaf karna kali ini aku harus jujur. Aku harus pergi, Co. Sekarang udah waktunya. Aku udah ditungguin sama malaikatnya Allah. Aku udah disuruh pulang, Co. Allah sayang sama aku, Allah sayang sama kamu, Allah mau yang terbaik buat kita semua. Maafin aku, Co. Aku harus pergi. Aku sayang kamu. Selamanya.” ucapku sambil menitikkan air mata.
“Windy, kamu nggak salah apa-apa kok. Aku yang minta maaf atas semua kesalahan aku, semua keegoisan aku juga. Sekarang aku ikhlas, Win. Aku juga nggak mungkin bisa menahan kuasa Tuhan. Tuhan emang sayang sama kita semua. Tuhan pasti punya rencana yang indah buat kita. Aku tau, Win. Aku tau. Aku sayang kam, Win. Selamat jalan, Win. Tenang ya di sana. Kamu akan selalu ada di hati aku, aku janji.” ujar Marco sambil menahan tangisnya dan mengusap air mataku.
           “Sekarang kamu senyum. Aku suka ngeliat kamu senyum. Kamu nggak boleh pergi sambil nangis.” Sambungnya lagi. Marco mencium keningku lagi, perlahan dan dengan lembut. Ia menitikkan air matanya di keningku. Aku tersenyum.
           Sekarang aku melihat tubuhku terbaring di ranjang rumah sakit. Marco masih menciumku. Ia menangis. Ia tau aku telah pergi. Saat ini aku telah berada di samping malaikat. Aku sudah pergi. Aku sudah berpulang ke pangkuan Allah. I’ll always love you, Marco. Forever.
 

Yeheyy finished! Ini cuma copas dari Ms.Word yang sudah kami ketik until we're tired huft :"
Minta komentarnya yaaa.. Jangan cuma lewat aja tapi gamau ninggalin jejak. Itu parah sangat! Haha, ditunggu komentarnya :D
Happy Satnight! <3 <3
@mariadevina_
@sekarlangit7


Tidak ada komentar:

Posting Komentar