Selalu seperti ini. Tak pernah bisa lebih dari ini. Aku terlalu takut dia mengetahuinya. Aku terlalu takut untuk mencoba lebih. Bagaimana dia akan tahu tentang perasaanku jika aku hanya bisa terus melihatnya dari jarak jauh? Sulit.
Selalu seperti ini. Aku memperhatikan tingkah lakunya. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Aku memperhatikan ke mana kakinya melangkah. Aku memperhatikan senyumnya. Aku memperhatikan tawanya. Aku memperhatikan caranya melakukan sesuatau. Selalu seperti ini. Tanpa dirinya tahu apa pun tentangku dan perasaanku. Sulit.
Selalu seperti ini. Hanya diam. Tak ada kata. Tak ada kalimat. Tak ada suara. Betapa pengecutnya aku? Aku seorang perempuan. Aku terlalu takut untuk mengatakan perasaanku yang sejujurnya. Sulit.
Jatuh cinta diam-diam.
Jatuh itu sakit. Cinta itu rumit. Diam-diam itu melelahkan.
Kadang aku berpikir untuk menyudahi saja perasaan ini, tetapi hati berkata lain. Hati ingin berjuang. Sayangnya pikiran lain lagi berbisik, aku terlalu takut untuk berjuang, untuk berani mengungkapkannya...
Dalam pandanganku, dirinya terlihat sangat sempurna, terlalu sempurna, walau sebenarnya tidak juga. Kadang dirinya terlihat rapuh, sangat rapuh. Hanya dia terlalu cerdas untuk menyembunyikan kerapuhannya itu.
Aku selalu memperhatikannya. Jarang sekali pandanganku dapat lepas darinya. Aku melihat segala yang ada di dirinya, di luar dirinya, yang terlihat oleh mataku.
Terkadang mataku terlalu cermat. Pandanganku terlalu teliti. Kadang aku dapat melihat sisi rapuhnya. Kadang aku dapat melihat raut wajah sedih, kecewa, dan marahnya. Aku dapat membedakannya. Kadang aku dapat mengetahui senyum dan tawa bahagianya serta senyum dan tawa palsunya.
Aku bingung. Aku tak paham lagi dengan semua ini. Hati. Pikiran. Perasaan. Segala yang ada dalam diriku tak kumengerti lagi. Kadang aku ingin berlari menjauh dari hidup yang sangat rumit dan melelahkan ini. Tapi apa dayaku? Aku tak pernah bisa lari dari masalah yang kubuat sendiri. Meninggalkannya. Mengabaikannya. Aku harus terus berusaha untuk menyelesaikan masalahku sendiri. Entah sekeras apa aku berjuang. Dan entah kapan aku harus berhenti.
Ingin rasanya aku jujur dengan perasaanku kepadanya. Jujur dari hati dan mulutku sendiri. Tapi semua itu tidak mudah. Entah bagaimana aku harus mengumpulkan keberanianku. Hanya untuk mengatakan Aku sayang kamu, udah itu aja cukup. Aku hanya ingin kamu tau perasaanku yang sebenarnya. Tak ada maksud lain. Aku hanya lelah menyembunyikan ini semua. Lelah. Sakit. Rumit. Sulit.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar