Agustus 28, 2014

Jatuh Cinta Diam Diam

Selalu seperti ini. Tak pernah bisa lebih dari ini. Aku terlalu takut dia mengetahuinya. Aku terlalu takut untuk mencoba lebih. Bagaimana dia akan tahu tentang perasaanku jika aku hanya bisa terus melihatnya dari jarak jauh? Sulit.
Selalu seperti ini. Aku memperhatikan tingkah lakunya. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Aku memperhatikan ke mana kakinya melangkah. Aku memperhatikan senyumnya. Aku memperhatikan tawanya. Aku memperhatikan caranya melakukan sesuatau. Selalu seperti ini. Tanpa dirinya tahu apa pun tentangku dan perasaanku. Sulit.
Selalu seperti ini. Hanya diam. Tak ada kata. Tak ada kalimat. Tak ada suara. Betapa pengecutnya aku? Aku seorang perempuan. Aku terlalu takut untuk mengatakan perasaanku yang sejujurnya. Sulit.

Jatuh cinta diam-diam.
Jatuh itu sakit. Cinta itu rumit. Diam-diam itu melelahkan.
Kadang aku berpikir untuk menyudahi saja perasaan ini, tetapi hati berkata lain. Hati ingin berjuang. Sayangnya pikiran lain lagi berbisik, aku terlalu takut untuk berjuang, untuk berani mengungkapkannya...
Dalam pandanganku, dirinya terlihat sangat sempurna, terlalu sempurna, walau sebenarnya tidak juga. Kadang dirinya terlihat rapuh, sangat rapuh. Hanya dia terlalu cerdas untuk menyembunyikan kerapuhannya itu.
Aku selalu memperhatikannya. Jarang sekali pandanganku dapat lepas darinya. Aku melihat segala yang ada di dirinya, di luar dirinya, yang terlihat oleh mataku.
Terkadang mataku terlalu cermat. Pandanganku terlalu teliti. Kadang aku dapat melihat sisi rapuhnya. Kadang aku dapat melihat raut wajah sedih, kecewa, dan marahnya. Aku dapat membedakannya. Kadang aku dapat mengetahui senyum dan tawa bahagianya serta senyum dan tawa palsunya.

Aku bingung. Aku tak paham lagi dengan semua ini. Hati. Pikiran. Perasaan. Segala yang ada dalam diriku tak kumengerti lagi. Kadang aku ingin berlari menjauh dari hidup yang sangat rumit dan melelahkan ini. Tapi apa dayaku? Aku tak pernah bisa lari dari masalah yang kubuat sendiri. Meninggalkannya. Mengabaikannya. Aku harus terus berusaha untuk menyelesaikan masalahku sendiri. Entah sekeras apa aku berjuang. Dan entah kapan aku harus berhenti.

Ingin rasanya aku jujur dengan perasaanku kepadanya. Jujur dari hati dan mulutku sendiri. Tapi semua itu tidak mudah. Entah bagaimana aku harus mengumpulkan keberanianku. Hanya untuk mengatakan Aku sayang kamu, udah itu aja cukup. Aku hanya ingin kamu tau perasaanku yang sebenarnya. Tak ada maksud lain. Aku hanya lelah menyembunyikan ini semua. Lelah. Sakit. Rumit. Sulit.



Agustus 23, 2014

Cinta Takkan Salah

Selamat malam.. Selamat hari Sabtu.. Mau ngepost cerita nih. Cerita buat tugas senibudaya sebetulnya ini.. tapi ngepost sini juga deh hehe. Ini ide ceritanya vinasekar yaa :))
Ini nggak full story sebenernya.. Soalnya kata om ari kalo divisualisasiin durasinya nggak boleh more than 8 minutes :"
Ini cerita tentang cinta yang full of perbedaan. Agama, suku, budaya, dan awalnya hubungannya itu nggak disetujuin sama orangtua mereka masing-masing. But mereka pantang menyerah gitu, mereka backstreetan gitudeh, but akhirnya adalah...
Mari baca :)) Tinggalkan komentarmu jika sudah selesai membaca ini :)) Tararengkyu :))



Namaku Windy. Aku sudah 3 bulan berpacaran dengan Marco. Selama 3 bulan itu kami berpacaran secara sembunyi-sembunyi. Hal itu terjadi karena tidak adanya persetujuan orang tua kami. Masalahnya adalah karena agama dan budaya kami yang berbeda. Aku seorang gadis keturunan ningrat dan aku menganut agama islam. Sedangkan Marco adalah seorang chinese dan beragama kristen. Belakangan ini orang tua kami mulai curiga terhadap hubungan kami berdua. Ditambah lagi Clara, mantan Marco yang mengadu kepada Mama Marco perihal putusnya mereka dan hubungan kami.
                Aku lelah. Aku tidak kuat lagi menjalani hubungan seperti ini. Aku lelah bersembunyi. Aku lelah membohongi ayahku. Aku ingin semuanya penuh kejujuran. Bukankah dalam sebuah hubungan harus didasari oleh kejujuran? Lagipula aku mulai bisa berpikir jernih, mungkin orang tua kami benar. Mungkin kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Mungkin cinta kami memang salah.
“Marco, lebih baik kita putus aja. Aku nggak tahan lagi sama hubungan kita yang kayak gini terus.” kataku kepada Marco sepulang sekolah.
           “Emang kenapa sih, Win? Nggak tahan kenapa?” tanya Marco kepadaku.
           “Aku capek, Co. Aku selalu merasa terpojok. Kamu tuh nggak ngerti rasanya jadi aku itu gimana.”
           “Calm aja lah, Win.. Kita kan bisa ngomongin ini baik-baik, jangan asal ambil keputusan. Kita nggak bisa ngambil keputusan pake emosi.”
           “Aku nggak lagi emosi, Co. Aku udah pikirin ini mateng-mateng. Aku mau kita putus.” Tegasku dan langsung pergi meninggalkan Marco.
           Setelah hari itu, aku tidak masuk sekolah selama 3 hari. Marco terus berusaha menghubungiku. Aku tidak pernah membalas smsnya, bbmnya, mentionnya, direct messagenya, chatnya, bahkan mengangkat teleponnya pun aku enggan. Aku tidak masuk sekolah karena kepalaku terasa seperti tertusuk jarum yang sangat banyak. Ternyata aku divonis oleh dokter menderita kanker otak stadium 3 dan waktuku diperkirakan hanya tinggal 2 bulan lagi. Aku mulai merasakan penyakit ini sejak bulan ke-2 aku bersama Marco. Aku ingin Marco siap untuk kehilanganku sebelum hal itu benar terjadi.
           Hari ini aku memaksakan diri untuk masuk sekolah. Walaupun ayah tidak mengizinkan, aku tetap bersikeras untuk masuk sekolah. Aku rindu Marco. Aku rindu melihat tatapan matanya, senyumnya, canda tawanya, pokoknya segala hal yang ada didalam diri marco aku rindukan.
           “Win, kemana aja nggak masuk sekolah? Kamu mau kabur dari aku? Atau menghindar? Salahku apa sih, Win?” kata Marco ketika melihatku masuk kelas.
           “Sakit.” jawabku ketus.
           “Kamu sakit apa? Kok nggak bilang?” tanyanya khawatir.
           “Cuma pusing aja. Kenapa harus bilang? Emang lo siapa gua?”
           “Kok kamu berubah?”
           "Gua bukan power ranger kali”
           "Kamu kenapa sih? Kamu aneh, Win. Aku punya salah apa sih sama kamu? Dosaku apa?”
           “Yaudahlah, Co.. Kita tuh udah putus, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi, lo nggak usah deket-deketin gua lagi! Nggak usah sok perhatian dan peduli lagi sama gua! Urusin aja mantan lo yang tukang ngadu itu, yang nggak bisa jaga rahasia orang dan selalu berharap balik sama lo! Urusin dia aja, Co! Ajarin dia tatakrama!” teriakku sambil menahan rasa sakit di hati dan kepalaku.
           Tiba-tiba tubuhku lemas, pandanganku kabur, lalu gelap. Aku pingsan. Aku baru sadar sekitar satu jam setelahnya. Aku ada di rumah sakit. Ayah dan Marco ada di sampingku.
           “Kamu tuh, nduk, tadi kan ayah sudah bilang ndak usah masuk dulu. Kamu ngeyel tho, dadine ngene. Mau kowe pingsan neng sekolah, untung ada Marco. Dia langsung bawa kamu ke UKS dan langsung nelpon ayah.”
           Tubuhku masih terlalu lemas. Aku tidak kuat untuk menjawab perkataan ayah.
           “Kamu kenapa nggak jujur aja sih, Win, kalo kamu kena kanker otak?” tanya Marco sambil menggenggam tanganku. Tatapannya sedih dan kecewa. Aku tidak menjawab.
           “Harusnya kamu bilang aja kalo kamu sakit, kita bisa lewatin ini bareng-bareng, nggak usah pake putus segala,” sambung Marco lagi.
           Semenjak itu ayah mengizinkan aku untuk berhubungan lagi dengan Marco. Aku selalu pergi ke sekolah bersama Marco. Belajar bersama Marco. Lebih sering berjalan di taman bersama Marco. Lari pagi bersama Marco. Hampir setiap saat kuhabiskan bersamanya. Marco semakin sabar dan memperhatikanku. Dia merawat dan menjagaku dengan sangat baik. Marco selalu mengingatkanku kala waktuku meminum obat. Marco selalu mengantarku menjalani khemotheraphy, dan dia tak pernah lupa untuk membawa boneka stitch kesayanganku. Dia berhasil membuat hari-hari terakhir hidupku menjadi lebih berwarna.
           Sebulan telah berlalu. Aku menjalani hari-hariku dengan penuh senyuman. Aku semakin bahagia ketika Mama Marco mendatangiku dan mengatakan bahwa dia menyetujui hubungan kami. Aku semakin semangat untuk sembuh. Walau terkadang aku berpikir bahwa mustahil penyakit ini dapat disembuhkan. Mustahil bahwa aku bisa bersama Marco selamanya. Kadang aku juga berpikir bahwa Mama Marco merestui hubungan kami karena ia tahu bahwa aku akan mati. Aku bertanya sendiri dalam hati apa maksudnya ini semua. Mengapa hidupku harus semenderita ini? Tetapi Marco tak henti-hentinya mengingatkanku: ‘kamu jangan mikir negatif terus... jangan mikir yang berat-berat dulu... berpikirlah bahwa kamu akan sembuh... pikir aja segala sesuatu yang bikin kamu seneng... itu bisa ngebantu proses penyembuhan kamu, Windy...’ yang akhirnya membangkitkan kembali asa dan harapanku untuk dapat sembuh.
Hari ini tepat tanggal 3. Aku sangat gembira dan bersemangat untuk berangkat sekolah. Hari ini adalah tanggal jadiku dengan Marco yang kelima. Aku berloncat-loncatan menuju kamar mandi. Tiba-tiba kepalaku sangat sakit sekali, pandanganku berkunang-kunang. Aku mulai lemas dan aku jatuh terkulai di kamar mandi. Aku mimisan.
           “Win, windy, kamu sudah siap, nduk? Ayo kita berangkat sekolah. Tadi Marco telpon katanya dia ndak bisa jemput kamu, dia mau nganter mamanya ke stasiun dulu. Jadi kamu berangkat sama ayah aja yo, nduk. “ Ayah mengetuk pintu kamarku
           “Windy dengar ayah ndak? Kamu sudah bangun tho? Kok nggak dijawab tho, nduk? Ayah masuk ya?”
Ayah masuk ke kamarku. Ayah bingung ketika melihat tempat tidurku kosong. Lalu ayah membuka pintu kamar mandi. Ayah sangat terkejut ketika melihat aku jatuh terkulai di lantai kamar mandi dan hidungku mengeluarkan darah.
           “Astaghfirullah hal ‘azim... Windy, kamu kenapa, nduk? Ayo kita ke rumah sakit sekarang!” jerit ayah sambil mengangkat tubuhku.
           “A…a..ayah” gumamku pelan, lalu aku tak sadarkan diri.
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Aku tersadar di rumah sakit. Sekujur tubuhku penuh peralatan dan selang-selang kecil khas rumah sakit. Aku tak dapat bergerak bebas. Aku melihat jam dinding. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh. Aku melihat sekelilingku. Tidak ada siapa pun. Aku merasa sangat sakit kali ini. Aku merasakan sakit ini lebih sakit dari biasanya. Aku merasa sebentar lagi adalah waktuku pergi. Perlahan airmata menetes dari pelupuk mataku.
Tiba-tiba pintu kamar rumah sakit terbuka. Marco muncul dari balik pintu. Ia membawa sebuket bunga mawar putih dan sebuah bungkusan kado. Marco tersenyum manis. Ia menghampiriku, mengusap rambutku yang sudah sangat tipis, dan mencium keningku.
“Selamat lima bulan, sayang... Ini aku bawain bunga mawar putih kesukaan kamu. Aku bawanya sebuket, nggak setangkai. Kalo setangkai kurang so sweet abisnya... hehehe,” ucap Marco sambil memberiku bunga dan menggenggam erat tanganku. Genggaman tangan Marco sangat erat, lebih erat dari biasanya, seakan dia tidak ingin aku meninggalkannya. Mata Marco terlihat agak sembap. Entah apa yang terjadi.
“Makasih sayang... Hahaha setangkai aja juga nggak papa kok, Co. Yang penting kan kamu ngasihnya tulus dan ikhlas...” jawabku tersenyum.
“Ini ada kado juga buat kamu, dari aku nih, aku bikin sendiri.” Marco memberikan bungkusan kado yang dibawanya.
Aku membuka bungkusan itu. Isinya adalah sebuah album foto. Di dalamnya terpasang fotoku dan foto kami berdua sejak awal kami bertemu sepertinya. Di halaman paling akhir tertulis tulisan tangan Marco, ‘MarcoWindy, 03-03-14’ dan foto favorit kami berdua.
“Bagus banget, Co... Niat banget ya bikinnya?” tanyaku.
“Aku sayang banget sama kamu, Win. Jangan tinggalin aku ya. Aku nggak tau gimana hidup aku kalo nggak ada kamu...”
Aku menggenggam tangan Marco. Aku menatapnya hangat. Sakit di kepalaku semakin hebat. Sebentar lagi waktuku habis, aku tau itu. Ada seorang malaikat yang sudah menungguku sedari tadi. Malaikat itu mengangguk dan tersenyum.
“Maafin aku, Co. Maaf karna aku harus ada di hidup kamu. Maaf karna aku udah nyusahin kamu selama ini. Maaf karna aku nggak bisa ngasih banyak kebahagiaan buat kamu. Maaf karna aku pernah nggak jujur sama kamu. Tapi maaf karna kali ini aku harus jujur. Aku harus pergi, Co. Sekarang udah waktunya. Aku udah ditungguin sama malaikatnya Allah. Aku udah disuruh pulang, Co. Allah sayang sama aku, Allah sayang sama kamu, Allah mau yang terbaik buat kita semua. Maafin aku, Co. Aku harus pergi. Aku sayang kamu. Selamanya.” ucapku sambil menitikkan air mata.
“Windy, kamu nggak salah apa-apa kok. Aku yang minta maaf atas semua kesalahan aku, semua keegoisan aku juga. Sekarang aku ikhlas, Win. Aku juga nggak mungkin bisa menahan kuasa Tuhan. Tuhan emang sayang sama kita semua. Tuhan pasti punya rencana yang indah buat kita. Aku tau, Win. Aku tau. Aku sayang kam, Win. Selamat jalan, Win. Tenang ya di sana. Kamu akan selalu ada di hati aku, aku janji.” ujar Marco sambil menahan tangisnya dan mengusap air mataku.
           “Sekarang kamu senyum. Aku suka ngeliat kamu senyum. Kamu nggak boleh pergi sambil nangis.” Sambungnya lagi. Marco mencium keningku lagi, perlahan dan dengan lembut. Ia menitikkan air matanya di keningku. Aku tersenyum.
           Sekarang aku melihat tubuhku terbaring di ranjang rumah sakit. Marco masih menciumku. Ia menangis. Ia tau aku telah pergi. Saat ini aku telah berada di samping malaikat. Aku sudah pergi. Aku sudah berpulang ke pangkuan Allah. I’ll always love you, Marco. Forever.
 

Yeheyy finished! Ini cuma copas dari Ms.Word yang sudah kami ketik until we're tired huft :"
Minta komentarnya yaaa.. Jangan cuma lewat aja tapi gamau ninggalin jejak. Itu parah sangat! Haha, ditunggu komentarnya :D
Happy Satnight! <3 <3
@mariadevina_
@sekarlangit7


Agustus 14, 2014

Kala Cinta Tak Berbalas

     Sedih. Kalut. Kecewa. Marah. Galau. Semuanya berpadu di saat yang sama, di waktu yang sama. Hati terasa sangat pedih, perih, tersayat... Rasanya semuanya telah usai. Tak ada lagi yang dapat dilakukan. Pikiran berkecamuk. Hati bergejolak. Entah masih sanggupkah diriku melalui semuanya ini dan segala yang akan terjadi di kemudian hari, di depanku..? No-one know. Aku pun tidak. Enggan rasanya melanjutkan hidup bila keadaannya hanya akan terus seperti ini atau bahkan lebih buruk dari sekarang ini... Apa mungkin ada baiknya kalau aku tidak ada..? Mungkin semua akan baik-baik saja dengan tidak adanya manusia yang benar-benar tidak penting seperti diriku ini.


Duhh.. serius anet ya bacanya... Ini bukan kisahku, ini ceritaku :)) Gua gamau bunuh diri kok selaw.. Gua juga ga lagi patah hati kok, ahahahahahaha :p Lanjut aja ya bacanya.. Ini kisah seorang gadis bernama Ilana...

Pertengahan Juli, awal masa putih abu-abu.
     Namanya Dhirga. Tak ada yang istimewa dari dirinya secara fisik. Amat sangat terlalu biasa. Tapi entah apa yang menarik diriku untuk mengajaknya berkenalan. Dhirga lucu. Dhirga masih sangat lugu dan dialek Jawanya masih sangat kental. Wong Solo. Aku mulai memperkenalkan Dhirga ke teman-temanku yang lain. Dhirga masih terlalu pemalu dan kalem saat itu. Ia tak banyak berbicara, ia hanya banyak tersenyum. Senyumnya manis. Dhirga mempunyai dua lesung pipi. Giginya tersusun rapi. Dan itu membuatnya terlihat... manis. Ahahaha, aku baru saja berkenalan dengannya...
     Tak disangka, aku mendapat kelas yang sama dengan Dhirga. Dhirga memintaku duduk bersamanya. Alasannya karena hanya aku yang cukup dekat dengannya. Dhirga lucu. Aku setuju saja. Toh tak ada ruginya juga kan kalau aku duduk bersamanya.
      
     Waktu terus bergulir, hari demi hari berganti, bulan demi bulan berlalu. Dhirga mempunyai banyak teman sekarang. Bukan hanya aku. Tetapi aku dan Dhirga masih sangat sering bersama. Berangkat sekolah bersama, menghabiskan waktu istirahat bersama, pulang sekolah pun bersama. Banyak orang menyangka kami berdua memiliki hubungan khusus. Padahal tidak. Sayangnya tidak. Aku dan Dhirga hanya berhubungan sebatas sahabat. Tidak lebih dari itu.
     Tetapi apakah salah bila aku menyimpan perasaan lebih untuknya...?


      Aku termasuk orang yang realis. Tapi aku suka membuat burung kertas. Ada mitos kalau kita membuat 1000 burung kertas keinginan kita akan tercapai. Entah kenapa kali ini aku ingin mencoba mempercayainya. Aku membuang pandangan realisku untuk sementara. Sejak aku mulai menyadari perasaan lebihku untuk Dhirga, aku mulai membuat burung-burung kertas. Saat ini jumlahnya sudah 913. Aku selalu menuliskan "Ilana ♥ Dhirga". Ketika aku melipat kertasnya hingga membentuk sebuah burung kertas, aku selalu mengucapkan kalimat "Aku sayang Dhirga.. Aku nggak mau kehilangan Dhirga.. Aku mau selalu ada buat Dhirga.. Dan Dhirga untukku...". Mungkin aku terlalu egois. Mungkin juga aku salah mengartikan perasaanku. Mungkin saja ini semua hanya obsesiku. Tapi apa bisa hati dimengerti? Apa bisa perasaan ditebak, dicegah, dan direncanakan? Aku tau jawabannya tidak. Aku juga tak pernah menyangka semuanya jadi seperti ini.


     "Lanaaaaa.. Mau cerita dong, boleh nggak?" rajuk Dhirga ketika kami di kantin saat istirahat esok harinya.
     "Mau cerita apaan lo? Semangat bener kayaknya, nggak kayak biasanya."
     "Gua lagi jatuh cinta."
     Deg. "Jatuh cinta? Bercanda lo! Kayak ngerti aja!"
     "Na, gua bukan Dhirga yang too polos kayak dulu lagi kali! Serius lah gua."
     "Yang namanya jatoh itu sakit, Ga."
     "Ini beda lah, Na.. Jatuh cinta itu berjuta rasanya. Indah banget, Na. Lo blm pernah ngerasain sih, makanya lo gatau kan."
     "Yaelah, tau apazih lo ttg hati gua?"
     "Lo kan too realis, Na. Mana sempet lo mikir cintacintaan kayak gitu, yakan?"
     "Nggak semua yang lo pikirin sama kayak yang orang lain pikirin."
     "Tuh, Na. Liat, Na! Senyumnya manis banget, Na. Matanya, Rambutnya.. Perfect banget, Na.."
     "Avilla?"
     "Selera gua bagus kan, Na..??"
      Aku tidak menjawabnya. Hatiku waspada. Avilla cantik, sangat cantik. Ia salah satu cewek populer di sekolah selain aku. Avilla banyak disukai orang. Cowok yang ngejar-ngejar banyak. Dan kata gosip, Avilla naksir Dhirga...

     Siang itu aku cepat-cepat ingin menyelesaikan burung-burung kertasku. 914! 86 lagiiiiii.... Aku ingin tau apakah mitos itu benar atau tidak, aku ingin membuktikannya. Kali ini saja, hanya kali ini. 
     Dua jam aku mengurung diri di kamar. Sudah 990 kertas yang kubuat. 10 lagi, dan selesai. Aku lelah, aku berniat untuk istirahat sejenak. Aku menyalakan laptopku. Aku membuka akun twitterku. Seperti biasa, aku mulai kegiatanku di twitter dengan mengecek notifikasi dan dm. Ada dari Dhirga. Dia memintaku untuk melihat bio-nya. Aku me-klik namanya. Kulakukan apa yang dimintanya. Aku terhenyak. Lemas, tertunduk. Di bio twitter Dhirga tertulis Avilla♥. Tidak percaya, aku mencari akun Avilla. Aku membaca bionya. Tertulis disana caesardhirga's
     Sedih. Kalut. Kecewa. Marah. Galau. Semuanya berpadu di saat yang sama, di waktu yang sama. Hati terasa sangat pedih, perih, tersayat... Rasanya semuanya telah usai. Tak ada lagi yang dapat dilakukan. Pikiran berkecamuk. Hati bergejolak. Entah masih sanggupkah diriku melalui semuanya ini dan segala yang akan terjadi di kemudian hari, di depanku..? No-one know. Aku pun tidak. Burung kertasku tinggal 10 lagi, dan ternyata semua sia-sia.. Dhirga tidak menjadi milikku.
     
     Dhirga bahagia bersama Avilla. Aku dan Dhirga juga masih sering bersamaan. Avilla gadis yang baik. Ia menerima hubungannku dan Dhirga yg berstatus sahabat. Kadang aku merasa sedih dan cemburu ketika melihat mereka bersama. Tapi ya, sahabat mah ngalah aja :') Aku bahagia melihat Dhirga bahagia. Aku pun bersahabat baik dengan Avilla. Aku selalu meminta Avilla untuk menjaga Dhirga karena Dhirga masih terlalu polos :') Dan aku selalu meminta Dhirga untuk menjaga Avilla seperti Dhirga menjagaku karena Avilla kini juga sahabatku, dan sayangku tak hanya untuk Dhirga tetapi juga Avilla.

Selesaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii :')))



Agustus 02, 2014

BEST(boy)FRIEND

Haluuu :D
Mau nepatin janji nih, janjinya udah lama banget, hari ini baru di-post ehehehe.
Nggak ada yang inget juga kan pasti? Iyalah, yang baca juga gaada haha :'))

Bingung mau kasih judul apa, jadi gitu aja judulnya..
Today aku mau bahas about enakan punya sahabat cowok daripada cewek menurut sudut pandangku.
Cause cara pandang orang beda-beda, so jangan protes kalo kamu ga setuju sama pendapatku. Just tinggalkan saran dan pendapatmu di kolom comment. Setuju? Harus setuju!

Pertama. Cowok itu simple.
    Enaknya punya temen atau sahabat cowok itu nggak usah pake ribet kalo mau ngapangapain. Kalo mau jalan ya tinggal cau. Ga diizinin bodo amat. Secara cowok gitu kan.. Ya bisalah pasti jaga diri sendiri, bisa sekalian jagain kita juga malah. Yakan? Coba kalo cewek.. (Ini gua ga ngomongin diri gua yaa.. Kalo gua, kalo emang gua niat mau pergi, gua ga izin dulu sblm pergi.. Pergi dulu, baru izin. So, nggak ribet dan gausah capekcapek jawab pertanyaan macem2 bak penjahat ketangkep nyolong ayam.) Cewek itu.. yaaa everyone know lah ya. cewek itu makhluk paling ribet seantero jagat raya. Pernah, gua ngajak temen cewek gua pergi. Sebutlah ke jakarta. Bekasi-Jakarta ga jauh2 amat kan yaa...? And you know what? dia nggak diizinin pergi sama ortunya and finally gua gajadi pergi juga. padahal gua udah empet banget ngejogrok di rumah -_-

Kedua. Cowok itu lebih apa adanya.
    Lebih apa adanya. Yes. Biasanya, biasanya ya, yang gue tau, cowok itu kalo nggak suka sama sesuatu atau sama seseorang langsung ngomong. Ya walaupun kadang2 bikin bete juga sih kalo terlalu nyablak ngomongnye. Kalo cewek, ya karena cewek itu lebih mengutamakan hati dan perasaan, so ya dia lebih hati2 kalo ngomong, takutnya kan nyinggung perasaan orang gitu. yagasih? ya pokoknya gua sih gitu..
Terus selain soal nyablaknya itu, cowok itu juga gak neko neko. He is him. Dia ya dia. Dia ya gitu. Kalaupun ada yang try to be other person ya berarti tuh cowok bukan yang enak buat diajak sahabatan haha. Ya secara sama dirinya sendiri aja dia nggak PD kan, gimana kalo sama orang lain especially wanita..

Ketiga. Cowok itu lebih ngerti masalah kaumnya.
    Nah yang ini nih. Biasanya kan sahabat itu kita jadiin tempat curhat, yakan? Nah, biasanya juga, kaum hawa yang kayak gua ini kalo curhat ya ga jauhjauh dari problem about kaum adam. Yagasih? Terus kalo menurut gue, kalo curhat sama sesama kaum kita jawabannya ga pasti, ga meyakinkan dan mungkin juga ga logis.
For example aja sih yaa, kalo misalnya kita cerita tentang gebetan or cowok ganteng, haha.
*curhatsamacewek*
"beb, lo tau ga sih kemaren si doi kan minjem catetan gue.." | "ih seriusan lo? dia tau kan kalo lo naksir sama dia?" | "iya tau.. gua seneng banget gila.." | "dia udah mulai suka juga kali sama lo, dia nyoba buat pdkt gitu kali kan.." | "iya kali ya?" | "coba aja kl pas dia balikin buku lo, lo cek tiap halamannya beb."
OMAIGAT! >.< entar taunya ada tulisannya "Jangan deketin gua lagi." nah loh nyesek nggak?
*curhatsamacowok*
"bre, lo tau ga sih kemaren si doi kan minjem catetan gue.." | "terus kenapa?" | "tandanya apaan bre kalo kayak gitu?" | "tandanya dia males." | "tapi dia kan tau kalo gue suka sama dia.." | "lo pinter, tulisan lo bagus, makanya dia minjem catetan lo." | "kenapa ga minjem yg lain? kenapa gue? mungkin nggak dia suka sama gue jg?" | "nggak usah geer dulu. jatoh sakit. kalo doi suka juga ntar nembak lo kan." | "berarti ntar dia bakal nembak gue dong?" | "gausah ngarep berlebihan."
ITU NGESELIN PARAH! tapi ya seenggaknya kita bisa lebih mikir make logika, nggak cuma menemukan praduga2 yang ga jelas kepastiannya. yagitudeh. walaupun cuek dan ngeselin but cowok is logis. Dan dia pasti lebih ngerti soal cowok juga daripada cewek kan ngeliatnya ya juga cuma dari sudut pandang cewek. Yakan?

Keempat. Cowok itu gatau diri.
    Ahahahahaha kenapa alesan ini? Iya cowok itu gatau diri pake banget malah. Tapi ini seru juga kok. Kadang dia sabodonanan dah sama apapun. Gatau diri kan? Kadang dia juga asal nyablak aja kalo ngomong. Gatau diri banget. Kadang dia suka terlalu jujur sama kurangnya kita. Gatau diri :') Kadang dia dengan ke-gataudiri-an-nya itu memperlakukan kita dengan sesuka hatinya dan menganggap kita ini cowok juga. Fiuhh. Tapi nggak jarang juga dia pedulinya gatau diri, perhatiannya gatau diri, baiknya gatau diri, sabarnya gatau diri, GATAU DIRI BANGET deh! Sampe misalnya kita have a boyfriend or pacar, ya mungkin kita bisa lebih gatau diri kalo lagi sama si bestboyfriend ini. Yagitu deh. okesip ini udah mulai rada mabok sih mikirnya haha.

Kelima. Terakhir deh ah, capek. Cowok itu, hm, sahabat cowok itu nggak mungkin berantem sama kita masalah rebutan cowok.
    Kecuali dia gay. Kalo misalnya berantem sama si bestboyfriend ini ya really impossible banget lah ya kalo masalahnya adalah rebutan cowok. Kalo rebutin kita iya kali, haha. Kemungkinannya kalo cewekcowok sahabatan berantem itu adalah masalah sepele biasanya, dan itu munculnya dari sisi cewek yang menyalahkan si cowok. Ga beda jauh lah sama kalo orang pacaran. Tapi ya lebih jarang pasti berantemnya.. ya karna biasanya kalo sahabatan ya udah saling ngerti dong ya.. kan deket banget pasti udah gitu lama juga.. Lebih dulu kan pasti deketnya dibanding sama pacar..? Jadi ya problemnya ya maybe about egoisnya si cewek or about terlalu nuntutnya si cewek. Kalo gitu sih berarti dia ga punya pacar. Jadi yang bisa diandelin cuma si bestboyfriend ini hahaha. And bedanya sama pacar juga, ga mungkin berantemnya karna si bestboyfriend ini deket sama cewek lain selain dirinya atau si bestboyfriend nya ini yang marah karna sahabat ceweknya punya cemceman ganteng. Kan statusnya just friend. Ga lebih. Kecuali kalo emang salah satu dari mereka telah terjebak dalam perasaan cinta, eh bukan, obsesi. Soalnya kalo cinta, pasti merelakan orang yg dicintainya untuk bersama yang lainnya kan.. Sahabat biasanya cuma bisa ngalah :') pukpuk ajadeh..


Yeayyy finally ini selesai! Ya pokoknya menurut gue, punya sahabat cowok itu lebih asik dan lebih enak.. Kecuali kalo emang udah terjebak dlm masalah cinta. Itu sulit. Sangat sulit. Hati hati aja sih..
Udah ya, udah malem.
Happy satnight ;)) Luvv <3

-tinggalkan jejakmu bila kamu sudah membaca post ini-
@mariadevina_