Gadis itu terbatuk sambil mengibaskan tangannya di depan hidung.
“Perokok aneh.”
“Kenapa? Memang salah kalau perokok suka strawberry
cheesecake?”
“Nggak matching!”
“Kamu juga. Dandanan serba pink gitu minumnya kopi hitam.”
“Setiap orang berhak minum kopi hitam. Lagian aku minum kopi
hitam juga ada alasannya.”
“Setiap orang juga berhak untuk suka strawberry cheesecake,
kan? Aku juga punya alasan untuk itu. Dan kamu sekali-sekali harus coba yang
manis kayak strawberry cheesecake ini. Hidup udah pahit, jangan ditambah pahit
sama kopi.”
“Kamu juga–––“
“Buatku, rokok itu main course. Strawberry cheesecake
dessertnya.”
Gadis itu masih mengingat kali pertama ia bertemu dengan si
perokok aneh itu. Perokok yang suka strawberry cheesecake. Perokok yang
membuatnya kembali menyukai sesuatu yang manis seperti strawberry cheesecake
yang saat ini ada di kedua tangannya.
“Kamu suka strawberry cheesecake karna dia?”
Pria berpakaian putih di sebelah gadis itu menatapnya. Gadis
itu mengangguk sambil tersenyum.
“Kenapa kamu mau makan itu di sini?”
“Aku nggak mau menikmati manis-masam-cheesy dessert ini
sendirian aja. Aku mau barengan sama dia. Bentar lagi dia pasti dateng nemenin
aku makan ini.”
“Jadi itu yang satunya untuk dia?”
Gadis itu mengangguk.
“Gimana kalau itu ditaroh sini aja terus kita titip pesen
sama mas-mas yang di sana. Ini udah sore, kamu harus pulang. Nanti kita
dicariin.”
Gadis itu tampak berpikir.
“Besok aku temenin kamu ke sini lagi untuk ketemu dia, deh. Janji.”
“Bener, ya, janji?”
Pria itu mengangguk dan tersenyum. Gadis itu meletakkan
strawberry cheesecake yang di tangan kanannya di situ, di depan papan yang
bertuliskan nama "Perokok Aneh", di atas gundukan tanah yang telah ditumbuhi
rumput hijau nan segar.
Pria berpakaian putih itu kemudian menggandeng tangan si
gadis dan mereka meninggalkan tanah penuh gundukan berumput itu.
21/05/2016
-DEV-